Dampak Munculnya Penyebaran Kebencian (Hate Speech) pada pilkada

Dampak Munculnya Penyebaran Kebencian (Hate Speech) pada pilkada

Oleh: Roha Mahasiswa program studi Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Maritim Raja Ali Haji

Salah satu tantangan dan ancaman kebhinekaan Indonesia adalah ujaran kebencian (hate speech). Maraknya ujaran kebencian ini setidaknya berdampak negatif dalam menjalin hubungan baik antar sesama manusia dan antar umat beragama yang selama ini telah terbangun. Semua agama pun melarang umatnya membenci sesama manusia. Sebaliknya, agama justru mengajarkan kepada setiap umatnya untuk saling menyapa, berinteraksi, berdialog, bahkan bekerja sama dengan semangat saling mencintai, saling menyayangi, dan saling melindungi.

Situasi politik menjelang pilkada bisa dimanfaatkan oleh sekelompok radikal untuk mempengaruhi pikiran pengguna dunia maya agar ikut agenda perjuangan mereka. Penebaran kebencian itu harus ditangkal karena bisa menganggu persatuan dan kesatuan bangsa. Aparat keamanan diharapkan tidak ragu untuk bertindak tegas terhadap pihak-pihak yang menebar kebencian. Di Indonesia, penyebaran hate speech meningkat dan cenderung tidak dapat dikendalikan pada masa kampanye dan pemilihan kepala daerah. Ajang pemilihan kepala daerah berubah ajang produksi dan peneyebaran kebencian melalui media sosial.

Penyebaran kebencian dari masing-masing calon bekerja untuk menjatuhkan serta menjelek-jelekkan pasangan calon lain. Sebaliknya mereka juga membela habis-habisan pasangan calon yang didukungnya. Penyebaran kebencian yang dilakukan pada saat pilkada sangat mudah terjadi dan tersebat di media social, karena kemudahan penggunaan media sosial yang sifatnya terhubung antara situs berita online dan media sosial.

Adanya potensi hoaks dan penyebaran kebencian dalam pilkada memiliki dampak pada seseorang atas keraguan dalam menentukan pilihannya, untuk itu munculnya penyebaran kebencian dan hoak menjadi ancaman bagi para generasi muda untuk dapat memilih secara rasional da cerdas. Hal ini juga mengkhawatirkan karena bisa jadi masyarakat akkan mempercayai penyebaran kebencian tersebut dan berita bohong yang di sebarkan di media sosial,kemudian pada akhirnya mereka memilih calon yang salah atau tidak layak. Kesalahan bisa saja terjadi karena mereka belum mendapatkan informasi yang menyeluruh,sehigga dengan mudah mereka berprasangka dan mungkin juga tidak percaya terhadap para calon yang diberitakan bohong.

Golongan yang rawan menjadi korban hoaks dan penyebaran kebencian tentunya adalah pemilih pemula. Pemilih pemula masuk dalam kategori remaja tahap akhir,usia mereka berkisar dari 17-21 tahun. Pemilih pemula yang baru pertama kai menggunakan hak pilihnya merupakan golongan yang rawan terimbas oleh hoaks dan penyebaran kebencian dalam pilkada,karena informasi yang mereka terima belum banyak dan mereka juga termasuk kategori usia pencarian jati diri sehingga dengan mudah dipengaruhi oleh sesuatu yang belum tentu benar.

Pada usia yang masih remaja, kebutuhan menggunakan media sosial juga tidak di pungkiri lagi, kebutuhan akan rasa ingin tahu juga menjadi alasan utama penggunaan media sosial. Sebagai generasi penerus bangsa, seharusnya pemilih pemula dapat menggunakan hak pilihnya secara rasional, bukan menjadi pemilih yang irasional karena adanya penyebaran kebencian dan hoaks ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *