Kurangnya Pengetahuan Masyarakat Terhadap Media Sosial yang Berdampak Pada Pilkada

Kurangnya Pengetahuan Masyarakat Terhadap Media Sosial yang Berdampak Pada Pilkada

Oleh: Asmi Septiani DM
Mahasiswa program studi Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Maritim Raja Ali Haji

Diera globalisasi ini apa yang kita butuhkan dapat diakses dengan mudah
terutama berkaitan dengan bentuk media cetak seperti Koran ataupun majalah, siaran televisi, internet dan lain-lain. Sekarang ini orang lebih sering mengakses pemberitahuan melalui internet atau media sosial khususnya masyarakat Indonesia.

Penyebaran berita bohong, fitnah atau biasa disebut hoax ditahun politik seperti saat ini, semakin menunjukkan pengaruh dan efek yang negatif bagi persatuan dan kesatuan bangsa. Terlebih berita bohong atau fitnah yang menyebar telah dimanfaatkan untuk kepentingan politik maupun ekonomi tertentu dari pihak yang menghendaki kerusakan dalam hidup bermasyarakat. Hoax ini racun bagi suatu kebebasan memperoleh informasi, sementara kita sering mendengar bahwa kebebasan memperoleh informasi itu diibaratkan oksigen bagi demokrasi. Hoax tak
hanya merusak akal sehat calon pemilih, namun juga membatalkan proses
penyelenggaraan pemilu, dan lebih parah lagi mampu merusak kerukunan masyarakat yang mengarah kedisintegrasi bangsa.

Jika berbicara mengenai Pilkada, kita tau bahwa fenomena hoax telah mencemari atau menebar racun dalam demokrasi yang kita jalani saat ini. Beredarnya berita hoax yang menjadi konsumsi sehari hari masyarakat telah dianggap sebagai informasi atau berita yang benar akibat masifnya berita hoax itu. Pemerintah mengkhawatirkan penyebaran melalui
media sosial akan berdampak pada Pilkada mendatang.

Mungkin banyak masyarakat yang tidak tahu bahwa hoax itu adalah alat atau senjata konflik yang paling besar saat ini diera informasi. Itu sebabnya jika kita melihat di semua kontestasi politik yang kita punya beberapa tahun terakhir, semuanya mempergunakan fitnah, mempergunakan hoax, mempergunakan berita palsu. Itu sebabnya, sekarang sangat penting bagi masyarakat untuk membekali dirinya dengan literasi digital, literasi apapun termasuk juga yang non-digital karena sekarang juga banyak fitnah yang disebarkan melalui selebaran atau yang lain-lainnya.

Sementara kebanyakan masyarakat juga kurang memiliki pengetahuan dan
sumber yang cukup untuk membedakan informasi atau berita yang diperolehnya benar atau salah. Maka dari itu masyarakat perlu diberikan pendidikan terkait masalah konten, penggunaan internet sehat dan literasi digital, khususnya dalam konteks pemilu.

Kebencian dan hoax dapat dilawan dengan pembuatankonten. Saat
ini kekurangan masyarakat sipil adalah tidak ada yang menciptakan narasi atau konten yang benar. Akibatnya masyarakat jenuh mendengar konten yang berhubungan dengan fanatisme dan partisan. Kebanyakan masyarakat menganggap bahwa kampanye dimedia sosial lebih efektif dibandingkan menggunakan baliho atau spanduk.

Orang yang semacam ini tidak akan percaya isi baliho dan spanduk
tersebut tetapi lebih percaya pada perkataan teman dimedia sosial. Dalam hal ini dikatakan bahwa setiap orang dapat berpengaruh bagi orang lain. Maka dimedia sosial tidak berlaku lagi kata “satu orang satu suara”, tetapi satu orang bisa memiliki kekuatan setara puluhan, ratusan bahkan ribuan lebih orang.

Kita seharusnya menggunakan media sosial dengan sebaik-baiknya, terutama dalam
hal memposting sesuatu dimedia sosial agar tidak salah apa yang kita
posting. Kita juga harus selalu cek dan ricek sebelum kita berbagi informasi, termasuk juga kita mengedukasi WhatsApp group yang kita ikuti. Kita selalu melakukan debunk (menghilangkan prasangka) atau kita memaparkan bahwasannya iniloh berita yang sebenarnya. Padahal kita tidak tahu berita yang sebenarnya terjadi, maka ini yang dinamakan berita hoax.

Maka dari itu kita harus tahu terlebih dahulu akan berita itu dan dari mana asal usulnya. Setelah berita tersebut sudah akurat maka boleh kita memposting berita dimedia sosial. Masyarakat juga bisa terapkan cara agar tidak menjadi korban hoax yaitu harus cermat dan teliti ketika membaca berita alias jangan mudah baper terhadap suatu berita sehingga akan menimbulkan penafsiran yang membawa pada suatu tindakan yang tidak diinginkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *