“Hate Speech” berlandaskan dukungan Melalui Jejaring Sosial Media Grup Facebook Menjelang Pilkada Serentak di Kepulauan Riau

“Hate Speech” berlandaskan dukungan Melalui Jejaring Sosial Media Grup Facebook Menjelang Pilkada Serentak di Kepulauan Riau

Oleh : Yolanda Dhita Aruny
Mahasiswa program studi Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Maritim Raja Ali Haji

“Siapa sih yang njelek-njeleki bapak A, wong aku cuman dukung ae.” Kata seseorang yang barangkali akan menyangkal bahwa dirinya tidak melakukan Hate Speech. Jadi, apa itu hate speech? Hate speech (Indonesia: ucapan kebencian atau ujaran kebencian) merupakan tindakan komunikasi yang dilakukan oleh suatu individu atau kelompok dalam bentuk provokasi. Adapun beberapa rekam jejak yang dapat dijadikan contoh pada saat ini adalah seperti ini.

Salah satu contoh di atas merupakan rekam jejak yang saya temukan di grup jejaring media sosial yaitu Facebook. Pemilik akun jelas memprovokasi para penghuni grup facebook untuk memilih seseorang yang telah diistilahkan olehnya dengan sebutan Pak Cik (Paman dalam bahasa Melayu) dan bukan Pak De (Paman dalam bahasa Jawa). Dalam kalimat yang ditulis oleh akun tersebut membawa dampak hate speech itu sendiri bahkan boleh jadi membawa unsur kebencian berupa SARA pada pilkada Kepri. Dampak yang ditimbulkan dari unsur kebencian berupa SARA dapat memecahbelas dua suku yang disebutkan oleh akun tersebut. Oleh karenanya, sebagai warganet yang bijak sudah seharusnya kita tidak terprovikasi apalagi jika kita sudah memiliki pendirian kelak akan memilih pemimpin yang mana. Karena di daerah Kepri bukan hanya milik suku A, suku B, ataupun suku C tetapi milik kita semua, bangsa Indonesia.

            “Dalihnya sih mendukung, tapi kok ya malah membawa kebencian terhadap satu pihak sih. Kenapa ga nyoba buat ngedukung dengan memberikan bukti-bukti yang telah diperbuat untuk negeri?”. Kata seorang warganet.

            Banyak faktor-faktor pendukung untuk melakukan pilihan yang bijak, semisal melihat rekam jejak perjalanan karir, hal yang telah dilakukan untuk kota Tanjungpinang ataupun provinsi Kepri tercinta, ataupun hal-hal sosial yang sangat mengangkat derajat kota Tanjungpinang ke kancah nasional.

            Mendukung calon pemimpin kita sih boleh saja, tapi bisa engga kita mendukung tanpa menjatuhkan lawan dari calon idola kita?

            Barangkali istilah kalimat di atas adalah bermaksud untuk memberi dukungan, kampanye yang tidak menimbulkan provokasi para penikmat politik. Tidak ada salahnya untuk mendukung dengan berkampanye di jejaring media sosial. Namun, dapatkah kita bijak ketika mendukung calon pemimpin yang kita percaya untuk memberikan pencerahan kepada masyarakat lainnya?

            Di bawah ini merupakan contoh-contoh dukungan yang tidak membawa dampak hate speech yang saya temukan di grup media sosial facebook. Kita boleh bandingkan kalimat awal akun yang di atas dengan akun yang di bawah ini.

Kedua akun tersebut memiliki dukungan yang berbeda terhadap calon pemimpin. Namun, mereka sama-sama memiliki bukti-bukti untuk mengagungkan calon yang mereka dukung. Hal ini, lebih memungkinkan untuk berdampak lebih positif karena tidak membawa unsur kebencian terhadap salah satu  pihak dan tidak memberi sebuah bandingan antara calon yang satu dengan yang lainnya. Sebagai penghuni grup pun akan memberikan tanggapan sesuai dengan siapa yang mereka pilih didukung dengan alasan-alasan yang sangat relevan sesuai dengan bukti-bukti dan dampak yang mereka peroleh saat ini. (21/6/2020).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *