PILKADA 2020? AWAS SARA MENGANCAM LAGI

PILKADA 2020? AWAS SARA MENGANCAM LAGI

Oleh: Syila Aulia. P Mahasiswa program studi Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Maritim Raja Ali Haji

Indonesia merupakan Negara yang dikenal dengan bermacam suku, budaya, adat istiadat, maupun agamanya yang beragam. Setiap daerah memilki ciri khas kebudayaan yang berbeda berdasarkan jenisnya , seperti Rumat adat, pakaian adat, upacara adat, seni musik tradisional, seni tari tradisional, seni rupa tradisional, senjata tradisional , suku bangsa, dan bahasa daerah. Perlu di ketahui bahwa Kebudayaan merupakan kekayaan terbesar dari suatu bangsa.

Sebagai negara yang majemuk, potensi munculnya radikalisme di tengah masyarakat sangatlah tinggi, apalagi jelang digelarnya Pilkada serentak tahun 2020 ini. Masyarakat Indonesia sendiri terbagi dalam tiga lapisan yaitu elite, menengah, dan bawah. Dari ketiga lapisan ini, lapisan bawah lah yang paling mudah terprovokasi. Sementara kalangan orang-orang elite adalah kelompok yang bisa memprovokasi, sedangkan kelompok menengah relatif netral dan tidak terlalu mempersoalkan mengenai isu yang beredar dan siapa yang akan maju menjadi pemimpin mereka nantinya.

Selain politik uang,  isu Suku, Agama, Ras, dan antargolongan (SARA) menjadi ancaman besar bagi Pilkada 2020. Isu/kasus ini menjadi besar karena ditunggangi dan dimanipulasi oleh para elite politik. Selain itu, kecerdasan masyarakat cenderung lemah menyikapi masalah mengenai SARA.

Masyarakat Indonesia kurang bisa membedakan antara ujaran kebencian yang menyinggung SARA dengan fakta yang sebenarnya ada di lapangan. Terlebih lagi banyak kasus mengenai SARA beredar di internet dimana masyarakat kurang bisa menyaring berita mana yang benar, dan mana yang tidak. Sebagian besar pihak yang menggunakan isu SARA dalam mendukung calon kontestan politiknya seringkali merasa hal itu sebagai bentuk pelaksanaan ajaran agamanya sendiri.

Perlu diketahui, bahwa SARA merupakan isu yang sangat sensitif dan dapat memecah belah persatuan bangsa jika terus berkelanjutan dan tidak ditangani dengan benar. Isu ini seperti tidak berkesudahan dan terus terjadi di dunia politik pemerintahan. Sayangnya kasus mengenai SARA tidak menjadi perhatian dalam Undang-Undang Pemilu karena isu SARA dianggap bukanlah sebagai ancaman.

Cara mencegah agar tidak terjadinya SARA pada pelaksanaan PILKADA adalah perlu nya mengadakan sosialisasi terhadap masyarakat untuk lebih berfikir bijak, cermat dan selektif terhadap hal hal yang mengarah pada SARA. Media massa perlu dirangkul untuk memastikan warga mendapatkan informasi yang berimbang secara cepat, dan tidak menyebarkan berita yang menyinggung salah satu pihak/kandidat dalam Pilkada.

Yang lebih pentingnya lagi, perlunya kesadaran sikap sportif para elite yang bersaing pada Pilkada. Sebisa mungkin SARA dicegah dan ditekan agar Pilkada berjalan dengan berasaskan Luber dan Jurdil, serta agar Indonesia dijauhkan dari perpecahan yang dapat merusak eksistensi Bangsa dan Negara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *