SURAMNYA PILKADA DISAAT MARAKNYA BERITA HOAX

SURAMNYA PILKADA DISAAT MARAKNYA BERITA HOAX

Oleh : Maysyaroh
Mahasiswi program studi Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Maritim Raja Ali Haji

Berita hoax yang menyebar ditengah masyarakat lewat media social atau portal-portal berita, menimbulkan keresahan dan ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Kemunculannya menimbulkan segregasi kuat ditengah masyarakat yang berakibat menghabiskan energy cukup besar untuk sekadar berdebat didunia maya.

Informasi yang menyebar cepat saat ini dimanfaatkan pihak-pihak tertentu untuk menyebarkan berita hoax. Berita hoax dapat tersebar cepat karena tingkat penetrasi pengguna internet diIndonesia yang tinggi mencapai 132 juta pengguna pada 2016 menurut data dari APJII (Asosiasi Penyelengara Jasa Internet Indonesia). Budaya orang Indonesia yang bangga ketika mereka dapat menyebarkan berita pertama kali, baik itu berita benar atau tidak, juga menjadi salah satu sebabnya.

Saat ini berita hoax sudah dibuat sedemikian rupa menyerupai berita asli, dilengkapi dengan data-data yang seolah-olah itu adalah fakta. Kemunculan berita hoax ini disebabkan ada pihak-pihak ingin membuat situasi menjadi kacau dan mengambil keuntungan dari sana.

Pemerintah sudah harus mulai serius menangani penyebaran berita hoax ini. Revisi UU ITE yang baru saja berlaku sebenarnya dapat menjadi landasan hukum untuk menjerat tidak hanya pembuat berita hoax, tetapi juga mereka yang menyebarkannya. Namun ancaman pidana ini kurang efisien karena penyebaran berita hoax sudah sangat massif dan dilakukan hamper oleh seluruh masyarakat pengguna internet.

Media penyebaran berita hoax dilakukan melalui portal-portal berita dan media sosial. Portal berita memproduksi konten hoax dengan beberapa tujuan, antara lain yang paling sering ditemui adalah alasan politik sekaligus ekonomi. Beberapa portal yang Ditengarai memproduksi konten berbau hoax punya alasan kuat secara politik untuk Mengkritik pemerintah.

Begitu pula sebaliknya, ada situs yang sengaja memproduksi konten untuk menyerang oposisi. Keduanya mempunyai pembaca loyal masing-masing. Ini sekaligus membuat portal berita banyak di akses dan menghasilkan keuntungan materiil. Menurut saya mengapa hoax itu sangat berpengaruh terhadap pilkada, karena penyebaran hoax bisa saja merupakan strategi politik. Secara umum, ada dua bentuk strategi politik, yaitu membangun citra kandidat dan membusukkan lawan politik.

Fanatisme dalam diri publik menimbulkan kecenderungan untuk menerima segala informasi yang mendukungnya. Dalam kasus hoax container surat suara, pendukung calon non-petahana akan lebih mudah menerima informasi tersebut. Mereka berpersepsi calonnya dizalimi melalui pencoblosan surat suara untuk pasangan petahana.

Dari kondisi saat ini, calon ketua daerah harus ikut berperan untuk mengurangi hoax. Sayangnya, dalam beberapa bulan terakhir, justru kedua pasangan capres-cawapres yang memanaskan situasi dengan melontarkan istilah-istilah tertentu. Selain itu hoax juga bisa merusak padangan masyarakat terhadap calon ketua Daerah dikarenakan kabar yang belum tentu benar, bisa saja merugikan berbagai pihak.

Oleh karena itu masyarakat harus pintar dalam memilih dan mengedarkan berita agar tidak terjadi kesalah pahaman yang dikarenakan berita yang belum tau akan kepastiannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *